Breathability
Kain tenunan adalah masalah kompleks yang memperhitungkan banyak faktor. Seleksi benang sangat penting untuk napas kain. Biasanya, serat alami seperti kapas, linen, dll. Memiliki napas yang baik karena mereka dapat menyerap dan melepaskan kelembaban, memungkinkan kulit berventilasi dengan baik dan nyaman. Sebaliknya, serat sintetis seperti poliester, nilon, dll. Kurang bernapas karena mereka umumnya bahan non-hygroscopic yang tidak mudah memungkinkan kelembaban untuk melewati.
Kedua, kepadatan benang dan struktur menenun juga memiliki dampak yang signifikan pada napas kain. Semakin tinggi kepadatan benang, semakin kecil celah antara benang di kain, dan semakin tidak bernafas. Sebaliknya, benang yang lebih tebal atau tenun yang longgar berarti lebih banyak celah dan napas yang lebih baik. Misalnya, kain tenun polos umumnya memiliki napas yang lebih baik karena strukturnya yang relatif longgar, sementara kain Jacquard mungkin kurang bernapas karena struktur menenun yang lebih padat.
Selain struktur benang dan menenun, perlakuan permukaan kain juga dapat mempengaruhi napasnya. Beberapa perawatan permukaan khusus, seperti pelapis, laminasi, dll., Dapat menghalangi pori -pori kain dan mengurangi kemampuan bernapas. Oleh karena itu, perawatan perlu diambil ketika memilih perawatan permukaan untuk memastikan tidak berdampak negatif terhadap napas kain.
Secara umum, kain yang lebih tipis cenderung memiliki napas yang lebih baik karena relatif tipis dan memungkinkan kelembaban untuk menembus lebih mudah. Namun, kain yang terlalu tipis dapat mengorbankan kehangatan dan daya tahan, membutuhkan trade-off antara napas dan indikator kinerja lainnya.